Kambing Kurban Kulon Progo, Singapura, dan Ekonomi Kerakyatan

Kompas.com - 31/08/2017, 21:21 WIB
Beberapa Fasal Ekonomi, Salah satu buku karya Mohammad Hatta. KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANIBeberapa Fasal Ekonomi, Salah satu buku karya Mohammad Hatta.
|
EditorMuhammad Fajar Marta

Vietnam, ujar Hasto, bisa mengirim beras itu dalam waktu 4 jam. Dari Kulon Progo? Butuh 4 hari. Soal harga, Vietnam bisa memberikan Rp 4.000 per kilogram, sementara dari Kulon Progo Rp 4.500 per kilogram.

Bahkan, bahan untuk pembuatan bayi tabung—profesi super spesialisasi yang ditekuni Hasto—pun dibilang kita kalah telak dari Vietnam. Negara tersebut sudah bisa membuat sendiri bayi tabung menggunakan tenaga dan teknologi lokal.

“Kita banyak kendala-kendala lokal. Kita kalah teknologi dan banyak hal. Kalau hari ini tidak membangun berbasis ideologi, kita bisa makin kalah lagi,” ungkap Hasto.

Keprihatinan nasionalisme kita, ujar Hasto, adalah bagaimana mempraktikkan benar ekonomi kerakyatan. Praktik ekonomi kerakyatan.

“Bagaimana bisa sertifikasi organik dan diakui dunia? Atau, kita sertifikasi sendiri dan kuasai pasar dalam negeri, lalu jaim sedikit dengan negara lain,” usul Hasto.

Sederet produk lokal Kulon Progo yang dihasilkan dan dipakai mulai dari Kulon Progo juga terus berentet. Mereka punya minimarket lokal Tomira alias toko milik rakyat, produk batu lokal untuk beragam pemakaian, juga batik yang melejit pemakaiannya hingga 40.000-an yard per bulan dari sebelumnya 2.000-an yard per bulan.

“(Batik), kalau kalah di teknologi, pakai saja tangan, terus ciprat-ciprat dan kasih nama ‘Batik Ciprat’. Kualitas nanti lah, eksis dulu. Kalau tidak punya teknologi dan lain-lain, perkuat dulu ideologi,” lanjut Hasto.

Praktik dan teori Hatta

Hasto pun menggunakan analogi dari dunia kedokteran sebagai landasan langkah memulai praktik nyata ekonomi kerakyatan sekaligus pengentasan kemiskinan melalui prinsip gotong royong.

“Sel-sel sakit bisa disembuhkan oleh sel sehat di sekitarnya. Orang miskin kalau gotong royong bisa selesaikan masalah kemiskinannya. Sunnatullah,” ujar dokter spesialis ini.

Praktik yang berjalan di Kulon Progo ini secara teoretik sudah gamblang diungkap Mohammad Hatta. Tulisan-tulisannya saat menjalani pembuangan di Digul dan Neira pada 1935-1941 antara lain dihimpun menjadi buku “Beberapa Fasal Ekonomi” yang cetak pertama pada 1942.

Bertebaran dalam buku itu, Hatta menegaskan produksi merupakan tuntutan penting bagi tegaknya kemandirian ekonomi bangsa sebagai bagian dari politik mencapai kemakmuran rakyat. Industrialisasi menjadi kebutuhan yang niscaya, karenanya.

Menurut Hatta, syarat industri ada empat. Yaitu, pekerja, modal, pengorganisasian, dan bahan baku. Keempatnya inilah yang perlu dikelola sebagai usaha bersama untuk menghadirkan kesejahteraan bagi semua yang terlibat di dalamnya.

Nah, Kulon Progo sudah memulai dan menunjukkan bukti bahwa ekonomi kerakyatan bisa menghasilkan dan menyejahterakan. Mau ikuti jejak Kulon Progo?

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X