Bekraf: Perusahaan Startup Harus Untung Dulu Sebelum Dikenakan Pajak

Kompas.com - 29/09/2017, 08:00 WIB
Penulis Achmad Fauzi
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia Triawan Munaf meminta kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk tidak langsung memajaki perusahaan rintisan atau startup

Menurut dia, otoritas pajak harus menunggu perusahaan startup untung dulu sebelum mengenakan pajak.  

"Mungkin pemerintah tidak bisa membantu lewat pendanaan tetapi bisa dengan meringankan pajaknya, mungkin dibebaskan dulu. Itu kebijakan, memang lima tahun pertama mereka enggak bisa bayar pajak karena masih rugi," ujar Triawan saat ditemui di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (28/9/2017). 

(Baca: Jokowi: Jika Regulasi Berlebihan, Inovasi Startup Tidak Muncul)

 

Triawan menuturkan, adanya pajak akan membuat perusahaan startup semakin tenggelam, bahkan bisa tutup.

Sebaliknya, jika ada keringanan dari pemerintah, maka keberadaan startup di Indonesia semakin kuat, sehingga dapat bersaing dengan negara lainnya. 

"Kalau ada kebijakan pemerintah startup dibebaskan pajak malah akan menambah semangat. Pokoknya harus untung dulu," tutur dia.

Permodalan

Selain itu, ungkap Triawan, permasalah yang juga dialami oleh perusahaan startup yakni permodalan.

Dia menjelaskan bahwa selama akses permodalan yang ditujukan kepada perusahaan rintisan digital atau startup masih sangat minim. 

Dia menambahkan, Bekraf sendiri telah memberikan permodalan sebanyak Rp 10 miliar kepada perusahaan startup. 

"Satu Startup itu kami kasih Rp 200 juta. Kami kasih tetapi diseleksi dulu. Soalnya sekaran semuanya butuh dan kami bantu. Nah sembari pilot program ini  berjalan, kami akan perbesar skalanya. Supaya lebih besar lagi masyarakat kreatif bisa dapat pendanaan," pungkas dia.

Kompas TV Saat ini semakin banyak start up aplikasi internet baru yang menghubungkan pengguna jasa dengan penyedia jasa. Kini bisnis startup di Indonesia berkembang pesat dengan bermunculannya ide-ide baru berbasis digital dalam bentuk aplikasi. Tidak hanya layanan jasa profesional startup juga menggarap berbagai kebutuhan sehari-hari target pasarnya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.