OJK Ungkap 3 Sebab Uang Korban Investasi Bodong Susah Kembali

Kompas.com - 14/07/2018, 19:01 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Masyarakat yang menjadi korban investasi bodong hampir dipastikan tidak bisa mendapatkan uangnya secara utuh. Kalaupun bisa, jumlahnya jauh di bawah dari uang yang diinvestasikan.

Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam Lumban Tobing mengungkapkan sepanjang 2007-2017 jumlah kerugian akibat investasi bodong mencapai Rp 105,7 triliun.

"Yang menarik, pelaku investasi bodong orangnya ya itu-itu saja. Sudah dijatuhi sanksi, mereka tetap kembali menjalankan praktik investasi ilegal dengan nama lain, perusahaan lain," ujarnya, Sabtu (14/7/2018).

Baca: OJK Ingatkan soal Investasi Bodong, Ini Ciri-cirinya

Menurut Tongam, jumlah korban korban investasi bodong bisa melebihi jumlah investor pasar modal. Hal yang menyedihkan, para korban tidak bisa mengambil uang yang telah disetorkan. Uang tersebut habis oleh perusahaan investasi ilegal untuk membiayai berbagai hal.

Dari catatan OJK, setidaknya ada tiga hal yang menyedot uang investor habis, yakni:

1. Membayar Imbal Hasil yang Tinggi

Perusahaan investasi ilegal menggunakan uang yang disetor nasabah untuk membayar imbal hasil investor yang terlebih dulu masuk. Hal ini juga menjadi strategi untuk menarik investor lainnya agar menempatkan dananya pada perusahaan yang bersangkutan.

Menurut Tongam, dalam 1-2 bulan pertama pembayaran imbal hasil lancar. Namun memasuki bulan kesembilan dan seterusnya, pembayaran biasanya tersendat. Bahkan perusahaan investasi tersebut tutup dan meninggalkan nasabah.

Baca: Beragam Modus Baru Investasi Bodong yang Diungkap OJK

2. Bonus untuk Para "Leader"

Perusahaan investasi ilegal memiliki para leader yang bertugas untuk mengajak calon investor memasukkan dananya ke perusahaan yang bersangkutan. Semakin banyak investor yang ditarik, semakin besar bonus yang diperoleh leader.

Tongam menyebut sebenarnya mereka yang menjadi leader adalah calo dari perusahaan investasi bodong. Perusahaan mengalokasikan dana cukup besar untuk membayar para calo tersebut. Uangnya diambil dari dana nasabah yang telah disetorkan.

3. Pesta

Guna meyakinkan calon investor, perusahaan investasi bodong kerap menggelar berbagai event yang terkesan "wah", seperti mendatangkan artis dan sebagainya. Melalui acara yang digelar ini, perusahaan investasi ilegal bisa meyakinkan para calon investor.

Modus menggelar pesta mewah dan besar-besaran pernah dilakukan oleh Koperasi Pandawa. Melalui acara-acara seperti pesta, calon investor menjadi percaya untuk menempatkan dana mereka di koperasi tersebut. Koperasi ini pada akhirnya berhasil mengeruk dana sebesar Rp 3,8 triliun dari nasabahnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.