Jeli Dalam Transformasi Digital Menuju Industri 4.0 - Kompas.com

Jeli Dalam Transformasi Digital Menuju Industri 4.0

Kompas.com - 31/08/2018, 19:18 WIB
Ilustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020 Thinkstock Ilustrasi perkembangan digital ekonomi Indonesia pada 2020

BELUM lama ini Presiden Joko Widodo mengingatkan ke publik bahwa Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam mengaplikasikan konsep Industri 4.0 sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing Indonesia di era digital saat ini.

Gayung bersambut, konsep industri 4.0 langsung memenuhi ruang wacana publik dengan semangat tinggi untuk mencapainya. Sektor bisnis sangat sadar bahwa Industri 4.0 adalah keniscayaan dan dorongan dari pemerintah dalam melaksanakannya adalah hal yang krusial. 

Seperti revolusi industri di generasi sebelumnya, revolusi industri 4.0 ini mengejar hasil yang sama, yaitu peningkatan pendapatan, penghematan biaya serta efisiensi operasional.

Konsultan bisnis kenamaan, PricewaterhouseCooper (PwC), dalam laporannya, menyebutkan bahwa transformasi digital dan revolusi industri 4.0 diperkirakan akan menambah pendapatan perusahaan di Asia Pasifik sebesar 39 persen selama lima tahun ke depan.

Baca juga: Menuju Industri 4.0, Ini 5 Sektor Industri Prioritas Menperin

 

Selain itu, penghematan biaya diperkirakan akan mencapai 57 persen berikut efisiensi hingga 68 persen. Tingkat digitalisasi di kawasan Asia Pasifik pun diperkirakan akan meningkat dari 36 persen ke 67 persen dalam periode yang sama.

Namun, tantangan utama dalam upaya melakukan transformasi menuju industri 4.0 ini adalah jurang besar antara aset yang digunakan bisnis saat ini dengan yang dibutuhkan untuk menjalankan industri 4.0.

Aset di sini termasuk keamanan internet, perangkat teknologi dan sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan.

Sejauh ini, banyak perusahaan di penjuru dunia sedang menjalani proses transformasi digital ini dan hanya sebagian kecil yang sudah mencapai tingkat kapabilitas digital yang diharapkan.

Untuk itu, Indonesia perlu meningkatkan daya saing digitalnya setidaknya di kawasan Asia Pasifik. Terutama karena teknologi digital terus berkembang dengan teknologi terkini seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), virtual reality (VR) maupun augmented reality (AR).

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian besar pelaku industri dalam mempersiapkan diri menghadapi persaingan digital ini adalah membangun kerangka keamanan digital, sistem informasi, dan sumber daya manusia.


Kepercayaan digital adalah kunci

Ekosistem digital, dimana jasa atau produk yang ditawarkan sebuah perusahaan dikonsumsi pelanggan melalui transaksi pembelian, hanya bisa berjalan jika semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini merasa aman.

Konsumen bisa melakukan transaksi menggunakan data yang dimilikinya dengan aman dan kegiatan operasional perusahaan berdasarkan data yang dimilikinya juga bisa terlindungi dengan baik.

Layanan financial technology yang menyediakan internet payment gateway tentunya merupakan contoh tepat untuk menggambarkan pentingnya kepercayaan digital. Pembelian atau pembayaran listrik sekarang sudah bisa dilakukan secara online pada platform e-commerce yang ada.

Baca juga: Blunder Paradigma Menghadapi Era Industri 4.0

 

Sekarang bayangkan ke depannya, perusahaan pada umumnya bisa menyediakan hal yang sama tanpa harus mengandalkan platform e-commerce, karena bisa memberikan layanan pembayaran online langsung ke pelanggannya melalui aplikasi mobile atau situs resminya.

Sekarang bayangkan, jika kemampuan menyediakan layanan pembayaran online itu juga bisa diberikan oleh perusahaan setingkat UKM langsung pada situs resminya dan juga akun resmi media sosialnya.

Ketika ini terjadi, perusahaan besar maupun kecil perlu memberikan keamanan digital bagi pelanggan agar mereka bisa menggunakan layanan tersebut dengan nyaman.

Beberapa hal penting yang perlu dilakukan perusahaan dalam membangun keamanan digital atas datanya adalah mempersiapkan pendekatan keamanan (seperti end-to-end security), kendali penuh atas akses data, penetapan standar keamanan pengolahan data sensitif pelanggan, serta proses kepatutan atau compliance.


Perangkat untuk optimalkan digitalisasi

Tak bisa dimungkiri bahwa data merupakan inti dari transformasi digital. Data merupakan harta karun yang dimiliki perusahaan sebagai modal utama perjalanan transformasi digitalnya menuju revolusi industri 4.0.

Perusahaan tinggal mengolah dan menganalisa data yang dimilikinya agar bisa menjadi dasar pengambilan keputusan arah bisnis ke depannya. Kemampuan untuk menganalisa data dalam jumlah besar (atau big data analytics) sangatlah penting karena tanpa itu, perusahaan akan kesulitan memanfaatkan secara optimal data yang mereka miliki.

Bayangkan analisa yang bisa dilakukan sebuah perusahaan telekomunikasi atas data perilaku konsumsi pelanggannya, seperti misalnya sales analytics yang bisa membantu menentukan kampanye pemasaran, digital listening untuk memahami kesadaran brand berikut konversi dan customer management untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan.

Tentunya hasil analisa seperti yang disebutkan di atas bisa membantu dalam mengambil keputusan arah bisnis perusahaan. Semua ini disebut sebagai analisa Customer Relations Management (CRM).

Karena itu, perusahaan perlu mengembangkan lebih jauh pendekatan yang bisa mendukung kapabilitas digitalnya, termasuk analisis data.

Beberapa pendekatan yang telah dilakukan perusahaan di berbagai belahan dunia antara lain dengan mendedikasikan satu departemen khusus untuk analisa data, menyertakan fungsi analisa data pada fungsi tertentu, mengembangkan kemampuan analisa data secara ad-hoc dan bekerjasama dengan pihak ketiga untuk melakukan analisa data secara oursource.


Kapabilitas digital sumber daya manusia

Perusahaan bukan hanya perlu mengembangkan perangkat atau sistemnya untuk menjalani tranformasi digital, tapi juga sumber daya manusianya.

Beberapa pilihan langkah yang bisa diambil perusahaan meliputi rekrutmen talent dari luar atau melatih karyawan yang ada untuk membangun kapabilitas digital secara internal. Selain itu mereka juga perlu mempertimbangkan untuk menambah fungsi baru dalam organisasi perusahaan seperti ahli analisa data.

Perubahan seringkali memang berat, tapi kesiapan industri dalam menghadapi persaingan digital di tingkat global perlu menjadi prioritas dalam menentukan langkah bisnis industri lima tahun ke depan.

Bagi perusahaan yang habitat bisnisnya di luar teknologi digital, tentunya ini adalah hal baru. Menjadi suatu hal yang wajar jika suatu perusahaan tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai pondasi untuk melompat dalam gerbong revolusi industri 4.0.

Saya melihat langsung fenomena kegamangan ini ketika bersama para kolega membantu perusahaan-perusahaan di bawahnya untuk menentukan langkah digitalisasi yang tepat untuk merevolusi bisnisnya.

Namun, sebagaimana bisnis pada umumnya, kejelian melihat peluang sangatlah penting dan melihat bagian mana dari Ekosistem Teknologi sebuah perusahaan yang perlu menjalani transformasi digital adalah langkah pertama menuju revolusi bisnis agar bisa bertahan di era digital sekaligus batu loncatan untuk menyambut Industri 4.0.

Apakah itu arsitektur Teknologi Informasi (TI) dari perusahaan, perangkat antar-muka atau interface dari operasional bisnisnya atau pengembangan inovasi digitalnya.

Setiap perusahaan memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing dan menentukan fokus dari transformasi digital tentunya akan membuat investasi yang dikeluarkan menjadi lebih optimal.



Close Ads X