Industri Logam dan Baja Harus Siap Hadapi Disrupsi

Kompas.com - 13/02/2019, 19:53 WIB
Ilustrasi baja www.shutterstock.comIlustrasi baja

JAKARTA, KOMPAS.com - Bisnis sektor logam dan baja saat ini tengah menghadapi persoalan disrupsi. Perusahaan dan para pelaku usaha di bidang ini harus siap untuk mengahadapinya.

"Cepat atau lambat, bisa mengancam bisnis-bisnis kita," kata Ketua Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Koesnohadi di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Menurut Koesnohadi, sejak beberapa tahun terakhir, persaingan dunia usaha sektor logam dan baja semakin ketat dan kompetitif. Namun demikian, perusahaan tidak perlu takut dan khawatir akan hal ini

Baca juga: Gandeng BUMN Karya, Krakatau Steel Incar Perusahaan Baja Lokal

"Yang jelas dalam bisnis kita, sesama industrinya sendiri ada persaingan. (Soal disrupsi) hampir terjadi di semua sektor," ujarnya.

Ia mencermati, ada kekhawatiran perusahaan maupun pelaku usaha terhadap dinamika dan perubahan tersebut. Salah satunya, posisi logam dan baja akan tergantikan dengan bahan baku jenis lain untuk keperluan industri, baik industri otomotif, infrastrukur dan lain-lain.

"Situasi bisnis seperti ini akan menjadi tantangan kita," sebutnya.

Baca juga: Dampak Perang Dagang, China Bakal Relokasi Industri Baja ke Indonesia?

Menurut dia, langkah yang bisa dilakukan perusahaan industri logam dan baja untuk hadapi ini adalah mendalam perkembangan sektor tersebut. Sehingga tahu celah dan sisi yang harus diperbaiki maupun dipertahankan. Ini supaya bisa tetap bertahan dan bersaing.

"Kalau soal solusinya pelaku busnis yang lebih tahu (cara menghadapinya)," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Ahli Pengecoran Logam Indonesia (HAPLI) R Widodo menambahkan, tidak ada langkah tepat untuk mengahadapi disrupsi selain tetap siap atas sebuah perubahan.

"Kita harus siap untuk menghadapi tren," kata Widodo.

Widodo menyakini, sejauh apapun perkembangan dan kemajuan teknologi, tidak ada dapat menggantikan posisi atau keberadaan logam dan baja untuk sebuah industri. Sebab, yang ada hanyalah pengganti alias substitusi yang dianggap memungkinkan.

"Tren itu akan menuju hal-hal yang ringan. Tidak semua, (bahan) plastik bisa menggantikan metal," sebutnya.

Baca juga: BUMN Karya Gandeng Krakatau Steel untuk Pasok Baja

Saat ini, salah satu yang diwaspadai dan dikhawatirkan pelaku industri logam dan baja ialah tergantikannya jenis metal oleh bahan lain, seperti misalnya plastik yang kekuatannya terus dikembangan sejumlah perusahaan baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Inilah yang terus mereka cermati dan pantau karena bisa menganggu iklim usaha sektor ini.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X