Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

Angkutan Daring yang Menggerakkan Ekonomi

Kompas.com - 07/06/2018, 12:24 WIB
Pengemudi ojek online melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (27/3). Massa dari pengemudi ojek online menuntut pemerintah membantu untuk berdiskusi dengan perusahaan transportasi online agar merasionalkan tarif. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPengemudi ojek online melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (27/3). Massa dari pengemudi ojek online menuntut pemerintah membantu untuk berdiskusi dengan perusahaan transportasi online agar merasionalkan tarif.

KETIKA  status layanan ojek daring (Ojol – ojek online) belum disepakati baik antara pemerintah, operator online, dan mitra pengemudinya, misalnya soal tarif dan insentif serta status hukum, sesuatu yang sangat dahsyat telah terjadi namun hampir tidak terdeteksi.

Sesuatu yang dahsyat itu adalah terkait peran transportasi online yang sangat besar, tidak hanya dari jumlah pengemudi, uang yang beredar, namun juga makin tergantungnya masyarakat pada moda transportasi ini.

Sadarkah kita, dengan jutaan pengemudi online, apakah itu dari Go-Jek atau dari Grab, pertumbuhan ekonomi kita membaik?

Hingga saat ini kita menempatkan Go-Jek dan sejenisnya itu sebagai rekan yang disayang karena makin dibutuhkan, tetapi juga dibenci.

Mereka tidak boleh parkir di dekat gerbang perkantoran atau perbelanjaan, tidak boleh menumpang istirahat sambil menunggu order di pos jaga Hansip di kampung. Bahkan kalau masuk satu kompleks semua kaca jendela harus terbuka, sepertinya dicurigai membawa teroris.

Padahal mereka saat ini sangat membantu dalam upaya pengurangan kemacetan di kota-kota besar karena banyak orang meninggalkan kendaraan bermotornya di rumah. Tetapi mereka juga dituduh membuat gerai retail tumbang karena berkurangnya orang berbelanja, juga restoran-restoran, hampir segala macam.

Baca juga: Komisi V: Pemerintah Perlu Atur Kontrak Kerja Perusahaan Ojek Online

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan online kini semua bisnis buka sepanjang hari, orang bisa order masakan gulai atau nasi uduk, ayam bakar jam 3 pagi untuk sahur. Kapan saja bisa pesan pakaian, sepatu, atau aksesoris lewat online dan diantar sampai depan pintu rumah kita.

Industri dan pengusaha rumahan kini tidak perlu menyewa toko di kompleks pertokoan yang mahal, cukup di rumah saja. Restoran bento yang terkenal malah ada di satu rumah di Meruya, menjajakan “bento kids” lewat online, dan makanan yang disukai anak-anak saat berulang tahun itu diantar oleh jasa antar onl.

Ada catatan anggota Presidum Pengurus Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslich Zainal Asikin. Katanya, dari satu operator transportasi online saja sehari ada 2,5 juta perjalanan di Jakarta.

Ini jelas kalahkan peran transjakarta yang hanya mengangkut 400 ribu penumpang, bahkan KCJ (Kereta Commuter Jakarta – KRL) yang mengangkut 989.000 penumpang sehari se-Jabodetabek. Padahal baik transjakarta maupun KCJ, semuanya mendapat subsidi triliunan rupiah dari pemerintah, transportasi online tidak sepeser pun, mereka modal sendiri.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.