3 Upaya Pemerintah Stabilkan Ekonomi di Tengah Gejolak Dunia

Kompas.com - 15/09/2018, 15:21 WIB
Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). KOMPAS/PRIYOMBODO Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah menjelaskan bahwa harga dollar yang mencapai Rp 15.000 beberapa waktu lalu diakibatkan oleh berbagai faktor yang berasal dari Amerika Serikat.

Faktor itu misalnya kenaikan suku bunga, likuiditas dollar yang diperketat, kebijakan fiskal yang ekspansif, dan adanya kebijakan perang dagang yang diterapkan Presiden AS Donald Trump.

Bukan hanya Indonesia yang mengalami dampak kebijakan ekonomi Amerika ini, namun seluruh negara di dunia, khususnya negara berkembang dan negara emerging atau menuju maju.

Melalui rilis dari Kementerian Keuangan yang Kompas.com terima Jumat (14/9/2018) malam, meski rupiah melemah, namun perekonomian Indonesia dalam keadaan baik-baik saja, bahkan dapat dikatakan prima.

"Dari sisi kegiatan ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru sedang mengalami akselerasi setelah mengalami tekanan merosotnya merosotnya harga komoditas sejak 2015-2016," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dalam keterangan tertulis yang diterima dari Kementerian Keuangan, Jumat (14/9/2018) malam.

Pasalnya, perekonomian mengalami peningkatan hingga 5,17 persen, sementara pengangguran hanya ada di angka 5,13 persen, dan tingkat kemiskinan di angka 9,8 persen.

Baca juga: IMF: Mendung yang Menggelayuti Ekonomi Dunia Semakin Gelap

Angka pengangguran dan kemiskinan ini, menurut Kemenkeu, ada di titik terendah sepanjang dua dekade terakhir.

Namun, adanya normalisasi kebijakan moneter menyebabkan negara-negara emerging harus mengembalikan arus modal kepada Amerika. Hal ini menekan Neraca Pembayaran Indonesia dan mengurangi aliran arus modal yang masuk ke negara kita.

Sebelumnya, penerimaan negara dari arus modal yang masuk pada tahun 2016 dan 2017 mencapai masing-masing lebih dari 29 miliar dollar AS, sehingga dapat menutup defisit yang ada di angka 11 milliar dollar AS hingga 12 miliar dollar AS.

Sementara di semester I tahun ini, arus uang yang masuk hanya sebesar 6,5 miliar dollar AS. Sangat jauh berkurang dari tahun sebelumnya. Padahal transaksi berjalan mengalami defisit sebesar 13,7 miliar dollar AS. Praktis keuangan negara mengalami defisit 8,2 miliar Dollar AS.

"Hal ini menggerus cadangan devisa dan nilai tukar Rupiah. Masalah inilah yang sedang ditangani pemerintah," ujar Sri Mulyani.

Peningkatan ekspor

ilustrasiThinkstock ilustrasi

Untuk mengatasi permasalahan ini, terdapat dua hal utama yang dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan ekspor dan mengendalikan impor baik barang maupun jasa.

Dalam upaya memperkuat daya saing produk dan jasa nasional di tingkat dunia, pemerintah melakukan perbaikan di berbagai sektor.

Halaman:


Terkini Lainnya


Close Ads X